Catatan Terupdate Setiap Hari

Tulisan Berisi Info Yang Bermanfaat bagi pembaca nya

Breaking

Senin, 28 September 2020

Wanita di Bidang Kehutanan: Mematahkan Stereotip Gender

Dunia kehutanan sering berhubungan dengan aktivitas raga yang berat, tempat yang hitam serta habitat untuk hewan liar. Tidak heran, pekerjaan yang berhubungan dengan kehutanan serta area erat berhubungan dengan maskulinitas ataupun cuma diperuntukkan buat pria saja.


Sementara itu, pada realitasnya wanita pula mempunyai kedudukan besar dalam pengelolaan hutan berkepanjangan lho. Bagaimanapun bekerja serta berkontribusi buat melindungi kelestarian hutan merupakan tugas bersama, tanpa memandang gender.

Beruntungnya, stereotype wanita yang sering berhubungan dengan urusan dapur serta mengurus pekerjaan rumah saat ini lambat- laun berganti. Pada masa ini tidak sedikit perempuan


yang saat ini terjun ke dalam pembangunan berkepanjangan di dunia kehutanan.


Mereka merupakan Manajer Restorasi RER Chella Powel, Staf Periset R&D Maggie Vency Meter, serta Koordinator Fire Awareness Community( FAC) Riana Ekawati. Ketiganya bekerja di salah satu produsen pulp serta kertas berkepanjangan terbanyak di Asia, Tim APRIL yang kesehariannya senantiasa bersinggungan dengan kehidupan di hutan.


Tingkatkan pemahaman warga dan mengedukasi berartinya penangkalan kebakaran hutan serta lahan( karhutla) merupakan pekerjaan tiap hari Fire Awareness Community( FAC) Coordinator APRIL, Riana Ekawati. Sosialisasi dengan metode yang menarik serta tidak membosankan merupakan strategi yang dicoba Riana supaya pesan buat menghindari karhutla bisa tersampaikan di warga.


Semacam dikenal, 99 persen pemicu kebakaran hutan ditenggarai akibat ulah manusia bersumber pada informasi dari Tubuh Nasional Penanggulangan Musibah( BNPB). Salah satunya, diakibatkan membuka lahan


dengan metode membakar yang dinilai lebih gampang serta murah


tetapi berakibat sangat kurang baik buat sesama.


Memandang perihal tersebut, Riana yakin kedudukan aktif tiap orang sangat vital buat bersama- sama menanggulangi permasalahan kebakaran hutan. Sebagian wujud sosialisasi yang dicoba regu FAC misalnya mengenalkan bahaya karhutla kepada kanak- kanak melalui Novel Alam serta Bunga, mengadakan nonton bareng film menimpa berartinya penangkalan kebakaran, sosialisasi tatap muka di pasar sampai menggandeng pemuka agama buat mengajak menghindari praktek pertanian yang tidak berkepanjangan.


“ Tantangannya merupakan gimana mengemas pesan menimpa buruknya akibat karhutla serta berartinya kita buat bersama- sama menghindari itu buat terjalin di mulai dari metode yang simpel semacam mengarahkan kepada kanak- kanak akibat kurang baik kebakaran buat sesama, tidak membuang puntung rokok sembarangan sampai bergeser ke praktek pertanian yang berkepanjangan,” ucap Riana.


Passion Riana buat menciptakan pemecahan jangka panjang untuk permasalahan kebakaran hutan serta lahan di Indonesia, tercantum upaya penanggulangannya semenjak dini membawanya sampai ke Amerika Serikat. Tahun kemudian, Riana terpilih buat menjajaki program pelatihan yang diselenggarakan oleh Young Southeast Asian Leaders Initiative( YSEALI) Professional Fellowship, buat tema Sustainable Development and the Environment.


Di situ, Riana banyak berdiskusi dengan pakar di bidang sustainability, melaksanakan peninjauan lapangan serta memandang langsung gimana para tenaga handal di situ bekerja sama dengan pemerintah serta warga buat menuntaskan permasalahan area secara berkepanjangan. Apalagi, Riana pula berkesempatan buat menghadirkan novel Alam serta Bunga bagaikan medium yang efisien buat mengedukasi bahaya karhutla semenjak dini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar